Followers

Tuesday, September 21, 2010

Luaskan Persahabatan

Meluaskan persahabatan dengan semua lapisan masyarat banyak faedahnya. Apabila kita berkawan biarlah dengan semua orang yang terdiri daripada pelbagai jenis pekerjaan. Contohnya tok imam, doktor, ustaz, tukang gunting rambut, pemandu teksi, tukang gunting rambut, penggali kubur, tok kadi, akaunten dan sebagainya. Setiap muslim adalah bersaudara sesama mereka di bawah panji kalimah syahadah. Jadi, setiap muslim yang meluaskan persahabatankan mengelakan permusuhan sesama sendiri. Sebaliknya mereka akan menjalinkan hubungan yang erat dengan sesiapa jua yang ditemui.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : “Wahai manusia, sesungguh! Kami telah menciptakan kamu daripada seorang lelaki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kamu saling mengenali. Sesungguhnya yang paling mulia antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenali.” (Surah al-Hujurat 49 : 13)

Warnailah kehidupan yang sejahtera dengan pebagai jenis kawan yang mana terdiri daripada pelbagai jenis warna kulit, bangsa dan agama.

Harus diingat, manusia tidak mampu berjaya menerobos sempadan diri andai hidup berkelompok tetapi tidak menjaga hubungan dengan sesama manusia. Banyak manfaatnya jika kita berbuat baik dengan semua manusia, menghubungkan silaturahim, berkasih sayang dan hormat-menghormati.

Orang yang bejiwa bersih itu hebat kerana berfikiran positif dan sentiasa bersangka baik.

Dato’ Dr Hj Mohd Fadzilah Kamsah . Solusi 23 . hubungan erat sesama manusia . Telaga biru .

Monday, September 20, 2010

Jangan Sepelekan Dosa Kecil


"Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya." (HR ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath).

Sudah maklum dikalangan ulama dan kaum muslimin bahwa dosa itu terbagi menjadi dua macam; kabair (dosa-dosa besar) dan shaghair (dosa-dosa kecil). Walau demikian ada juga sebagian ulama yang tidak melihat adanya pembagian seperti ini, namun menganggap bahwa seluruh kemaksiatan dan penyelewangan dari jalan Allah adalah dosa besar karena merupakan keberanian dan kelancangan dihadapan Allah. Orang yang mengatakan demikian karena melihat betapa besarnya hak Allah atas hamba-hamba-Nya. Ada diantara ulama yang mengatakan: "Suatu dosa dianggap kecil hanya lantaran jika dibandingkan dengan dosa lain yang lebih besar, jika tidak tentulah semua dosa itu besar adanya. "Namun pendapat ini lemah sebab Allah sendiri telah membagi dosa dalam dua bagian yaitu fawahisy/ kabair dan al lamam/shaghair sebagaimana firmanNya:

"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil (QS An Najm: 32)

Jadi pendapat yang benar -wallahu a'lam - adalah bahwa dosa itu terbagi menjadi dua; besar dan kecil. Dan kabair tidaklah terbatas dengan suatu bilangan tertentu namun apa saja yang dilarang oleh Allah dan disertai dengan ancaman Neraka, murka, laknat, adzab atau berhadapan dengan sanksi hadd (hukuman berat yang telah ditentukan jenisnya) di dunia maka itulah kabair, dan yang yang selain demikain maka tergolong shaghair(ithaf as saadah al muttaqin 10/ hal 615-616).

Berubahnya dosa kecil menjadi dosa besar

Imam Ibnul Qayyim pernah berkata: "Dosa-dosa besar biasanya disertai dengan rasa malu dan takut serta anggapan besar atas dosa tersebut, sedang dosa kecil biasanya tidak demikian. Bahkan yang biasa adalah bahwa dosa kecil sering disertai dengan kurangnya rasa malu, tidak adanya perhatian dan rasa takut, serta anggapan remeh atas dosa yang dilakukan, padahal bisa jadi ini adalah tingkatan dosa yang tinggi (tahdzib madarij as salikin hal 185-186). Dengan demikian maka dosa kecil dapat berubah menjadi besar dengan adanya faktor-faktor yang memperbesarnya, yaitu:

1. Terus-menerus dalam melakukannya
Hal ini karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya raan (bercak) didalam hati, maka dari sini ada qaul mengatakan: "Tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus dan tak ada dosa besar jika diiringi istighfar. "Ucapan ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu berdasarkan atsar yang saling menguatkan satu dengan yang lain (ithaf as-sa'adah al-muttaqin 10/687).

2. Anggapan remeh atas dosa tersebut
Rasulullah saw telah bersabda:
"Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya." (HR ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath). Rijal dalam dua riwayat ini shahih semuanya kecuali Imran bin Dawir Al Qaththan namun dia dapat dipercaya, demikian kata Imam Al Haitsami dalam Majma' Az Zawaid 10/192.

Ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'anhu pernah berkata: "Seorang mukmin melihat suatu dosa seakan-akan ia duduk dibawah gunung dan takut jikalau gunung itu menimpanya dan orang fajir (pendosa) melihat dosa bagaikan lalat yang lewat didepan hidungnya seraya berkata "begini", Ibnu Syihab menafsirkan: yakni berisyarat (mengebutkan) tangannya didepan hidung untuk mengusir lalat.

Suatu ketika shahabat Anas Radhiallaahu 'anhu pernah berkata kepada sebagian tabi'in: "Sesungguhnya kalian semua melakukan suatu perbuatan yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum padahal di masa Nabi saw kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat membinasakan. "(riwayat Al Bukhari). Di sini bukan berarti Anas mengatakan bahwa dosa besar dimasa Rasulullah dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat, namun itu semata-mata karena pengetahuan para shahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka-jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar. Dan dengan sebab ini pula maka suatu dosa akan dipandang lebih besar jika dilakukan orang alim dibandingkan jika pelakunya orang jahil, bahkan bagi orang awam boleh jadi suatu dosa dibiarkan begitu saja (dimaklumi) karena ketidaktahuannya yang mana itu tentu tidak berlaku bagi orang alim dan arif. Atau dengan kata lain bahwa besar kecilnya suatu dosa sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan dan keilmuan pelakunya (ithaf as-sa'adah al-muttaqin 10/690).

Tapi meski bagaimanapun seseorang seharusnya dituntut untuk menganggap besar suatu dosa, sebab jika tidak demikian maka tidak akan lahir rasa penyesalan. Adapun jika menganggap besar atas suatu dosa maka ketika melakukannya akan disertai dengan rasa sesal. Ibarat orang yang menganggap uang receh tak bernilai, maka ketika kehilangan ia tak akan bersedih dan menyesalinya. Namun ketika yang hilang adalah dinar (koin emas) maka tentu ia akan sangat menyesal dan kehilangannya merupakan masalah yang besar.

Perasaan menganggap besar terhadap dosa muncul karena tiga faktor:
- Menganggap besar atas suatu perintah (apapun ia).
- Menganggap besar Dzat atau orang yang memerintah.
- Keyakinan akan benarnya balasan.

3. Merasa senang dan bangga dengan dosa
Seperti seorang pelaku dosa berkata: "Andaikan saja engkau tahu bagaimana aku mempermalukan si fulan, dan bagaimana aku membuka aib dan keburukannya sehingga nampak jelas semua!" Atau misal yang lain: "Seandainya kamu melihat bagaimana aku memukul dia dan menghinakannya!"

Orang ini sudah begitu lupa dengan kejelekan dosa sehingga malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginan-nya yang terlarang. Dan perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya, sekaligus menunjukkan ketidaktahuannya dengan Dzat yang ia maksiati, buruknya akibat dan besarnya bahaya kemaksiatan. Rasa senang dengan dosa telah menutupi semua itu, dan senang dengan suatu dosa lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri. Sebab. orang yang berbuat suatu dosa namun sebenarnya tidak senang dengan perbuatan itu maka ia akan segera menghentikannya. Sedangkan rasa senang dengan dosa akan menimbulkan keinginan untuk terus melakukannya.

Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah maka akan menyeretnya untuk melakukan dosa tersebut secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah dan bertekad untuk terus melakukannya. Dan ini adalah jenis lain dari dosa yang jauh lebih berbahaya daripada dosa yang ia lakukan sebelumnya.

4. Meremehkan "tutup dosa" dan kesantunan Allah
Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuk-nya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan lain kepadanya, sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang para pemuka agama kaum Yahudi yang berkata: "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya." Juga firman Allah:

"Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: "Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu" Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Mujadilah: 8)

5. Membongkar dan menceritakan dosa yang telah ditutupi oleh Allah
Seseorang yang melakukan dosa kecil dan telah ditutupi oleh Allah namun ia sendiri malah kemudian menampakkan dan menceritakannya maka dosa kecil itu justru menjadi berlipat karena telah tergabung beberapa dosa. Ia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang ia kerjakan, dan bisa jadi akan memancing orang yang mendengar untuk ikut melakukannya. Maka dosa yang tadinya kecil dengan sebab ini bisa berubah menjadi lebih besar.

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
" Seluruh umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam dosa (al mujahirun), termasuk terang-terangan dalam dosa ialah seorang hamba yang melakukan dosa dimalam hari lalu Allah menutupinya ketika pagi, namun ia berkata: "Wahai fulan aku tadi malam telah melakukan perbuatan begini dan begini!" (HR Muslim, kitabuz zuhd)

6. Jika pelakunya adalah orang alim yang jadi panutan atau dikenal keshalihannya
Yang demikian apabila ia melakukan dosa itu dengan sengaja, disertai kesombongan atau dengan mempertentangkan antara nash yang satu dengan yang lain maka dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Tetapi lain halnya jika melakukannya karena kesalahan dalam ijtihad, marah atau yang semisalnya maka tentunya itu dimaafkan. (Dari Al-'Ibadat Al-Qalbiyah, Dr. Muhammad bin Hasan bin Uqail Musa Asy-Syarif)

Pemateri : Dr. Muhammad bin Hasan bin Uqail Musa Asy-Syarif

Token from SCP (rezeki-suatucatatanperjalanan.blogspot.com)


19 September 2010 ~ 10 Syawal 1431H . Kota Tinggi . Pagi Minggu . Rumah Rezeki @ Pak Itam . Allhamdullah .



Assalammuaaikom w.t.b kepada pembaca, pemerhati dan pendengar setia FajarSubuh. Rumah kedua Bloger yang ana ziarah di Hari Raya. Seawal malam sabtu telah dijanji, akhirnya pagi ahad jua tidak menjadi. Jam 11.25 pagi tiba di Kota Tinggi. Sebenarnya perjalana tidak begitu jauh. Nak dikatankan KT dah menggalahkah KL. Sejauh dari Ulu Tiram lagi jalan sudah sesak, bukan sesak dengan masyarakat berpusu-pusu untuk berbeli-belah di Pasaraya Today's. Malangnya ia sudah menjadi lumrah kawasan sempadan ke Kota Tinggi ini menjadi 'jem'. Mungkin selepas siap sepenuhnya jalan yang baru dibina itu, tiada lagi masalah perjalan untuk hendak ke Kota Tinggi. Jadi untuk anda semua, usah la bimbang dengan keadaan sesak yang melanda Bandar Kota. Sepanjang perjalan untuk sampai ke Kota Tinggi, diminda ana bermain satu fikiran. Bagaimanakah keadaan Pak Itam nanti ya, bagaimankan cara pergaulan dia, siapa sebenarnya pak itam. Setiap perkara mesti ada jawapanya. Allah sentiasa akan menambahkan kasih sayang kepada setiap hambaNya jika hambaNya saling berkasih sayang sesama manusia dan mahluk Allah. Yakin pada janji Allah. InsyaAllah.


Terasa begitu seronok dapat mengenali dengan lebih rapat lagi perwatakan Pak Itam. Orangnya berfikiran terbuka, pandai berkata-kata, bijak berbahasa, tulus ikhlas dalam perkataanya dan juga seorang penyanyang. Banyak ilmu yang ana perolehi dari beliau, tidak lupa juga nasihatnya yang sangat berguna. Ini membuatkan ana terkesan dengan setiap kata-katanya. Setiap kata-kata orang lama memang sangat berharga, orang kata lebih dulu merasa garam dari kamu. Allhamdullah setiap juadah yang disediakan, syukran. "ada rezeki" InsyaAllah dilain masa, bisa bertandang di teratap ana pula.


Orang berbudi kita berbahasa, orang memberi kita merasa. Terima kasih atas segala layanan yang diberikan. Semoga atas doa tulus ikhlas ana, menambahkan lagi rezeki dari Allah s.w.t yang tidak terhingga kepada Pak itam.


Daripada Jubair bin Nufair, salah seorang tabiin (orang yang hidup selepas sahabat Nabi s.a.w.) telah berkata : "Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. apabila berjumpa pada Hari Raya, mereka mengucapkan kepada yang lain, Taqaballahu Minna wa Minkum (May Allah accept it from us and you) 'Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian semua."' Menurut pandangan jumhur ulama, mengucapkan tahniah pada Hari Raya merupakan perkara yang disyariatkan dalam Islam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...